Kamis, 29 September 2022
Advertisment
BerandaLiputanWisataSejarah Masjid Agung Demak, Peninggalan Kesultanan Demak yang Penuh Makna

Sejarah Masjid Agung Demak, Peninggalan Kesultanan Demak yang Penuh Makna

Mengunjungi Demak tak akan lengkap rasanya jika tak singgah di Masjid Agung Demak. Wisata religi yang terletak di Kampung Kauman, Bintoro, Demak, Jawa Tengah ini menjadi salah satu ikon Kabupaten Demak.

Dilansir dari “Oas Menjelajah Masjid: Masjid Agung Demak” karya Agus Maryanto dan Zaimul Azzah, bangunan ini merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Demak. Masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Sultan pertama Demak, yakni Raden Patah.

Salah satu masjid tertua di Pulau Jawa ini didirikan pada tahun 1477 masehi. Mengutip dari sumber lain, “Cerita Rakyat Jawa Tengah Sunan Kalijaga (Asal usul Masjid Agung Demak)” yang ditulis Ade Soekrino, masjid ini merupakan perwujudan dari harapan Raden patah untuk membuat bangunan monumen yang bernuansa Islam. Pendiri Kesultanan Demak itu pun meminta Wali Songo untuk membangun sebuah Masjid di area Bintoro. F

ungsi Masjid Agung Demak Pada masa kejayaannya, Kesultanan Demak menjadi pusat tempat utama pengembangan para ulama di Nusantara. Bangunan masjid yang dibangun oleh Raden Patah dan para wali itu pun makin ramai didatangi oleh orang-orang dari berbagai penjuru wilayah nusantara. Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak.(Pesona Indonesia)

Masjid sederhana dan berukuran kecil itu tak lagi mampu menampung pengunjung yang semakin banyak.

Akhirnya Raden Patah kembali memerintahkan para wali untuk memperluas bangunan tersebut.

Pengerjaan renovasi masjid ini dilakukan oleh empat orang wali, yaitu Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga. Filosofi bangunan Masjid Agung Demak Kembali merujuk pada tulisan Agus Maryanto dan Zaimul Azzah dalam “Oas Menjelajah Masjid: Masjid Agung Demak”, masjid yang memiliki luas 1,5 hektar ini terdiri dari ruang utama, pawastren dan serambi.

Di dalam kompleks Masjid Agung Demak ini juga terdapat bangunan cungkup makam, peseban, museum, wisma tamu dan perpustakaan.

Serambi di depan ruang utama pada masjid ini biasa digunakan sebagai tempat ibadah dan ruang pertemuan. Masyarakat juga biasa melakukan beragam acara keagaaman untuk memperingati hari-hari besar Islam.

Serambi Masjid Agung Demak berukuran 30 x 17 meter. Bagian ini berupa ruang terbuka dengan atap berbentuk limas tiga lapis yang semakin mengerucut di puncaknya.

Mengutip website resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, atap itu memiliki filosofi akidah Agama Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Bagian serambi ini memiliki delapan tiang yang disebut sebagai Saka Majaphit.

Delapan pilar penyangga itu konon dibawa langsung dari keraton Majapahit. Hampir dua pertiga bagian Saka Majapahit ini memiliki ukiran motif sulur dan motif tumpal yang mengagumkan.

Tak hanya pilar serambi, ada pula empat tiang utama yang disebut sebagai Saka Tatal atau Saka guru. Tiang ini terdapat di empat penjuru mata angin yang menyangga ruang utama masjid.

Saka Guru konon katanya dibuat langsung oleh empat wali yang membantu pembangunan masjid.

Sunan Bonang membuat pilar di bagian barat laut, Sunan Gunung Jati membuat pilar bagian barat daya, Sunan Ampel membuat pilar bagian tenggara, dan Sunan Kalijaga yang membuat pilar bagian timur laut.

Banggunan utama pada Masjid Agung Demak ini memiliki ukuran 23,10 x 22,30 meter dengan ruang mihrab berukuran 1,4 x 2,4 meter. Meski sudah megalami bannyak renovasi, nuansa tradisional dari bangunan ini masih begiu kental. Pengunjung bisa menyaksikan berbagai interior lawas yang terawat dan mempercantik bangunan utama ini.

Salah satunya adalah keramik annam biru putih dengan motif tumbuhan, binatang mitos, dan pola giometris yang terdapat di dinding-dinding ruang utama. Bagian utama ini memiliki tiga pintu. Salah satu pintu yang paling terkenal adalah Lawang Bledeg (pintu petir).

Pintu utama yang berada tepat di tengah bangunan ini dipercaya dapat menangkal petir.

Sunan Bonang membuat pilar di bagian barat laut, Sunan Gunung Jati membuat pilar bagian barat daya, Sunan Ampel membuat pilar bagian tenggara, dan Sunan Kalijaga yang membuat pilar bagian timur laut.

Banggunan utama pada Masjid Agung Demak ini memiliki ukuran 23,10 x 22,30 meter dengan ruang mihrab berukuran 1,4 x 2,4 meter. Meski sudah megalami bannyak renovasi, nuansa tradisional dari bangunan ini masih begiu kental. Pengunjung bisa menyaksikan berbagai interior lawas yang terawat dan mempercantik bangunan utama ini.

Salah satunya adalah keramik annam biru putih dengan motif tumbuhan, binatang mitos, dan pola giometris yang terdapat di dinding-dinding ruang utama. Bagian utama ini memiliki tiga pintu.

Salah satu pintu yang paling terkenal adalah Lawang Bledeg (pintu petir). Pintu utama yang berada tepat di tengah bangunan ini dipercaya dapat menangkal petir.

Tak jauh dari mihrab, terdapat sebuah bangunan kecil yang disebut dengan Maksurah. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai tempat beribadah para raja atay pengguasa.

Bangunan ini terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran unik di setiap sisinya. Pada dinding bagian atas terdapat prasasti yang ditulis menggunakan huruf-huruf arab. Bagi kamu yang berencana mengunjungi Masjid Agung Demak, jangan lupa tetap menaati protokol kesehatan.

Selalu pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan pakai sabun. Bila perlu, lakukan vaksinasi sebelum bepergian.

https://travel.kompas.com/read/2021/07/08/102721027/sejarah-masjid-agung-demak-peninggalan-kesultanan-demak-yang-penuh-makna?page=3

TULISAN TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Terbaru

Komentar Terbaru